Kekurangan Oksigen pada Otak

Suatu kondisi medis yang ditandai dengan kekurangan pasokan oksigen ke otak dikenal dengan hipoksia serebral. Artikel berikut adalah informasi mengenai faktor yang menjadi penyebab kekurangan oksigen ke otak dan gejalanya.

Otak manusia memanfaatkan sekitar 20% dari oksigen yang digunakan oleh tubuh kita. Karena otak selalu membutuhkan oksigen untuk menjalankan fungsinya, kurangnya ketersediaan oksigen dapat memiliki dampak negatif pada fungsi otak. Sel-sel otak sangat rentan terhadap perubahan pasokan oksigen. Situasi yang membahayakan jiwa seperti koma atau kematian otak bisa muncul jika timbul gangguan dalam jumlah pasokan oksigen ke otak untuk jangka waktu lama.

Seseorang didiagnosis mengelami hipoksia otak ketika pasokan oksigen ke otak terbatas. Kondisi ini lebih dikategorikan menjadi hipoksia serebral difus – gangguan fungsi otak akibat penurunan kadar oksigen dalam darah, iskemia otak fokal – stroke yang mempengaruhi bagian tertentu dari otak, infark serebral besar – stroke akibat penyumbatan pembuluh darah yang memasok darah ke otak, dan iskemia otak global – penurunan drastis dalam suplai darah ke otak.

Penyebab hipoksia serebral

Ensefalopati hipoksia iskemik mengacu pada kerusakan yang terjadi akibat penurunan pasokan oksigen ke otak. Kekurangan oksigen dapat terjadi karena kekurangan pasokan oksigen (hipoksia) dan berkurangnya aliran darah (iskemia).

Kondisi medis
Hipoksia serebral dapat terjadi karena berbagai alasan. Berikut adalah beberapa kondisi medis yang menjadi penyebab hipoksia.

  • Infeksi paru-paru yang menyebabkan pneumonia kadang-kadang dapat menyebabkan kekurangan oksigen ke paru-paru dan otak.
  • Pendarahan pada otak yang tidak mendapat perawatan yang tepat waktu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan darah. Hal ini bisa mempengaruhi pasokan darah ke otak, yang akan membatasi pasokan oksigen ke otak.
  • Pasokan oksigen ke otak dapat berhenti karena serangan jantung.
  • Hipoksia iskemik terjadi ketika otak tidak mendapatkan oksigen dalam jumlah yang cukup. Ini bisa terjadi karena serangan stroke.
  • Pertumbuhan tumor di otak dapat menghambat aliran darah dan oksigen.
  • Tekanan darah sangat yang rendah juga menjadi faktor penunjang kekurangan oksigen pada otak. Kadar glukosa darah yang sangat rendah juga mampu menyebabkan kematian otak.

Hipoksia janin
Kurangnya aliran darah ke plasenta dapat mempengaruhi suplai oksigen ke janin. Trauma ke otak selama atau setelah melahirkan dapat menyebabkan hipoksia. Hipoksia serebral lebih sering terjadi pada kasus bayi prematur. Oksigen yang tidak cukup dapat memperlambat aliran darah plasenta.

Keracunan
Menghirup karbonmonoksida juga akan menyebabkan hipoksia. Menghirup karbonmonoksida menyebabkan pembentukan carboxyhemoglobin yang mencegah oksigen mengikat hemoglobin.

Selain penyebab tersebut, kurangnya suplai oksigen juga dapat disebabkan serangan pernafasan karena tersedak, tercekik, atau tenggelam. Hipoksia juga dapat terjadi pada ketinggian tinggi karena tekanan parsial oksigen yang rendah pada ketinggian tinggi.

Gejala kekurangan oksigen

Berkurangnya pasokan oksigen ke otak dapat menyebabkan penurunan kontrol dan perubahan kognitif meliputi pusing jika bangun dan berdiri dengan cepat, lemah, peningkatan denyut jantung, kehilangan memori untuk jangka pendek, dan perubahan warna kebiruan pada kulit.

Pada kondisi yang parah, seseorang yang mengalami hipoksia dapat mengalami gejala seperti kejang, koma, berhentinya nafas, dan tidak adanya refleks otak. Seseorang dapat dikatakan mati otak ketika terjadi kerusakan otak dan hilangnya fungsi otak, tapi jantung terus berdenyut, sedangkan pernafasan dibantu dengan ventilator mekanik. Penderita yang koma dapat menampilkan beberapa tanda-tanda yang menunjukkan berfungsinya beberapa bagian otak. Namun, jumlah aktivitas otak dapat bervariasi dari orang ke orang.

Hipoksia serebral dapat didiagnosis dengan bantuan pemeriksaan fisik, tes darah, dsb. Penderita memerlukan alat bantu pernafasan atau ventilator mekanik. Pilihan pengobatan dapat bervariasi, tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Misalnya, pemberian obat tertentu dapat membantu mengontrol detak jantung. Pemberian cairan dapat membantu meningkatkan tekanan darah. Penggunaan obat-obatan tertentu seperti fenitoin, fenobarbital, asam valproik dapat direkomendasikan untuk menghentikan dan mencegah kejang. CPR, dapat menyelamatkan hidup seseorang. Jika otak kekurangan oksigen dalam jangka waktu yang sangat singkat, mungkin ada akan sedikit kerusakan. Namun, beberapa penderita dapat pulih tergantung pada sejauh mana cedera yang terjadi otak. Resiko kematian otak lebih tinggi jika otak tidak mendapatkan oksigen yang cukup selama lebih dari lima menit.

Bookmark and Share

Comments are closed.

tetap semangat jangan pernah goyah DMCA.com