Surga di Telapak Kaki Ibu

Apakah anda sudah lupa bahwa surga di telapak kaki ibu? Artikel di bawah bukan hanya berlaku untuk anak-anak, tetapi juga bagi ibu-ibu di masa kini.

Hanya orang-orang yang selalu ingat dan berbakti kepada ibundanya akan menjadi orang-orang besar. Karena ibu adalah kunci kesuksesan ataupun kegagalan seseorang. Hari ibu bisa kita peringati juga yang jatuh pada setiap tanggal 22 Desember. Ungkapan “Surga berada di telapak kaki ibu“, telah mengungkapkan seluruh arti seorang ibu bagi kita.

Khususnya bagi ibu-ibu di Indonesia, nampaknya ada semangat spriritual yang sangat tinggi untuk selalu mendoakansurga di telapak kaki ibu anak-anaknya agar selalu mendapatkan pengayoman Tuhan Yang Maha Suci, dan selalu berjalan di jalan yang benar. Banyak ibu melakukan tirakat seperti puasa, tidak tidur pada saat anak-anaknya ujian, mencari pekerjaan, dll. Doa seorang ibu sangat bertuah, demikian pula kutuk seorang ibu. Betapapun ibu dikhianati oleh anak-anaknya, jarang seorang ibu mengutuknya, dan bahkan selalu berdoa agar anaknya kembali ke jalan yang benar. Tetapi apabila sang ibu melihat bahwa anaknya akan semakin murka dan dapat membahayakan lingkungannya, dengan berat hati ibu akan mengutuknya.

Legenda Malinkundang ~ Surga di Telapak Kaki Ibu

Malinkundang menjadi batu adalah sebuah legenda yang dipercaya ada kejadiannya dan kepercayaan yang demikian tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Malinkundang adalah contoh seorang anak yang malu mengakui ibunya pada saat Malinkundang telah menjadi seorang yang berada, sedangkan ibunya adalah seorang yang miskin, lagi hina.

Pada waktu Malinkundang tidak mengakuinya, sang ibu masih terus mendoakan agar Malinkundang disadarkan dan diberi tuntunan. Namun ketika Malinkundang mengusirnya dan berlaku semena-mena terhadap orang miskin, sang ibu mengutuk dan meminta kepada Tuhan agar Malinkundang menjadi batu. Dan jadilah Malinkundang si anak durhaka menjadi batu.

Dewasa ini dalam kemajuan zaman, banyak terjadi pergeseran nilai-nilai, termasuk adanya pengaruh budaya asing. Banyak anak-anak Indonesia yang telah menjadi orang, baik karena sukses dalam pendidikan maupun dalam pekerjaan, merasa rendah diri karena ibunya adalah orang kampung.

Sekalipun anak-anak yang demikian tidak menjadi batu karena memang tidak dikutuk oleh ibu-ibu mereka, tetapi hatinya telah membatu. Mereka tidak lagi dapat melihat penderitaan orang miskin yang tercermin dalam penderitaan ibu mereka. Kebaktian mereka hanya terhadap atasan serta benda-benda mewah. Banyak dijumpai orang-orang besar, tetapi ibunya tinggal di desa dalam keadaan memprihatinkan. Mungkin sang ibu memang menghendaki demikian, karena tidak ingin bergelimang harta benda anaknya yang diketahui tidak diperoleh secara wajar.

>>  Seni Membaca Daun Teh

Dalam situasi seperti itulah kita merasa terharu, justru bagaimanapun juga seperti pemimpin besar revolusi-Bung Karno, selalu sungkem kepada ibundanya, dan masih menghayati arti surga berada di telapak kaki ibu.

Namun di sisi lain, karena pengaruh budaya asing, banyak ibu juga telah kehilangan semangat spritualnya. Banyak di antara mereka tidak lagi menganggap anak sebagai titipan Tuhan untuk disempurnakan hidupnya, akan tetapi anak dianggap semata-mata sebagai hasil hubungan dengan suaminya. Banyak bayi menangis, memelas dan mendambakan air susu ibunya, yang lebih senang bersenam atau ke salon untuk mengencangkan tubuh, banyak remaja mendambakan dekapan kasih sayang serta tempat penumpahan perasaan menjadi kecewa, karena ibu mereka lebih suka rapat ataupun mengejar karir. Dan betapa hancur perasaan mereka, yang menginginkan rumahnya sebagai terminal kasih sayang keluarga menjadi berantakan, karena orang tua mereka terus-menerus bertengkar untuk hal-hal yang sepele.

Kini, banyak anak-anak menjadi liar, kenakalan anak dan remaja semakin meningkat baik kualitas maupun kuantitas. Mirasantika, atau paling sedikit rokok menjadi tempat pelarian mereka. Pergaulan bebas yang mengakibatkan kehamilan, pengguguran, kejahatan seks, dan bahkan seks sejenis telah semakin meluas.

Masihkah ibu menginginkan mitos surga di telapak kaki ibu dan itu dapat menjadi kenyataan, ataukah ibu hanya ingin mengalihkannya bagi anak-anak, bahwa surga tidak lagi berada di telapak kaki, melainkan telah bergeser ke batang-batang yang berasap, dedaunan yang memabukkan, bubuk putih yang menghanyutkan, butiran kancing baju, jarum neraka yang kesetanan, ataupun semak belukar dan ranjang ternoda, serta tontonan video yang berwarna biru?

Hanya ibu yang bisa menjawab…


Ref: Permadi SH. (1983). Editorial Warta Parapsikologi: Sorga di Telapak Kaki Ibu. Jakarta Selatan:EXPRESS.

-edited by me-
 
  Incoming Keywords: apa bnr surga di telapak kaki ibu

Comments are closed.